Biarkan Permana terbuai dngan detakan jarum jamx, hingga nanti mengantarnya ke waktu yg kan menuntut sgalah akibat dari ulahnya itu.
Mungkin jam yg kini di pegang Permana bisa diibaratkan "Jam Analog di Zaman Digital"....Tidak sadar kalo jam... dinding Tua yg perna di milikinya adalah "jam segalah zaman" lewati ribuan generasi, lewati segalah masa dan lewati segalah dimensi...
by: erdy
comment Jam dinding tua
17.09 |
JAM DINDING TUA
17.03 |
by : ALAN RUSUA
JAM INI INDAH SEKALI
PEMBUATNYA PASTI SANGAT AHLI
JAM DINDING ITU BUATAN MAHA GURUH
DIWARSKAN UNTUK MENGHITUNG WAKTU & MENUNJUK ARAH
APA TUAN PEMILIKNYA ..?
BUKAN ...!!!!
LIMA NEGERI ITU TUANNYA
PERMANA & PERMAISURI DITAMBAH TIGA ADIKNYA
JAM DINDING ITU TAMPAK BEDA DENGAN LAINNYA
ANGKA-ANGKANYA HANYA SATU SAMPAI DELAPAN
BAGAIMANA BISA DIPAKAI UNTUK MENGHITUNG WAKTU DAN MENUNJUK ARAH ..?
SUDAH DIAJARI OLEH MAHA GURUH
PEDOMANNYA SUDAH DIWARISKAN BUAT TUAN-TUAN DI LIMA NEGERI ITU
JAM DINDING INI TAMPAKNYA AGAK TERLAMBAT
YAH ..! PEMBUATNYA MEWARSIKANNYA BEGITU
TAPI KENAPA SANG PERMANA INGIN MERUBAHNYA .?
KARENA PERMANA TAK SUKAH JAM DINDING TUA
PERMANA MENGINGINKAN YANG BAHARU
YG TDK TELAT & SAMA DENGAN LAINNYA
APA PERMANA SUDAH PUNYA JAM DINDING BARU ...?
YAH ..! HASIL PERMAK DARI JAM DINDING TUA
TAPI ITU SEBUAH TIPU MUSLIHAT
HARGA TEBUSAN UNTUK SEBUAH HUKUMAN
Kolaborasi si Gagak
19.54 |
Gelak tawa para pengkultus
mengiringi alunan melodi siulan gagak hitam,
mengusung irama memekakan telinga
di pentas sandiwara degradasi titah guru…..
Mereka berbagi pedang bersama
sedang tangan yang lainnya bertamengkan intelektual
menebas di setiap sudut dialektika
tak urung membuat sang kesturi tercengan kaget
melihat kolaborasi klasik mereka di zaman digital…...
Debu zaman boleh mengendap di setiap cerita
namun tidak untuk jam dinding tua dalam cerita lain bang Alan Rusua.
Di kedai kang Ahmad Moni Ku berhutang secangkir tuak
biar mampu ku selami isyarat di balik tiga batang jarum
yang taat menjalankan titah waktu.
jam dinding tua itu kini berdenting
menebar isyarat di ketinggian singgasana arsy
alam pun mengamuk, tanda bumi tak lagi akur
ketika fenomena kedudukan mengambil alih titah pandita
Kang Ahmad, maaf ya....ku pinjam melodi di karya yg lain
Nusa hatuhaha nusa barakate
Tihiny barakatea wa’a kutika lessia dunia’e
Putu kota hatua kura lauto kalajimua
Syahadatau maheri suwe ma’aria dunia’e
Ini lelucon sejarah,
Siulan si gagak yang meruntuhkan aqidah
menyekap sudut fitrah manusia di lorong gelap
membungkam warisan jiwa yang sebenarnya
jangan…jangan…jangan tertidur di antara sejarah kawanku
kita terlahir untuk masa ini,
walau tinggi, biarkan Huruwano menjadi iri melihat lebih tingginya perjuangan kita
biarkan Alaka tersenyum, bahwa ternyata ada perjuangan di balik temboknya yg dulu kokoh
sebelum Tihu di Kaki Bukit Tihikondo menjadi kering
sebelum daun gadihu menjadi layu
sebelum malam menjelang….
si Gagak hanya butuh sangkar yang nyaman
sangkar yang di sinari Hannan…..Mannan….Daiyan dan Burhan
biar cukup cahayanya
terang penglihatannya…..
peka perasaannya…..
tajam penciumanannya
hingga cahaya penghidupan benar ada di sana
2 November 2010
(ditulis di : puncak segitiga gowa, di antara makam para sultan)
Oleh:
mahala lahat wa’a nusa talimau
Hatu atau Hati
19.47 |
Dari tiada maujud dalam nokhta
Merangkai bentuk dalam huruf
Menyusun abjad dalam deretan
Tercipta kata penuh makna
Hatuhaha
Hatuhahai
Hatuahahai
Wahai penyusun nokhta dan huruf
Dalam cepatnya rotasi masa
Menggilas bukti menghapus jejak
Hamba bingung mohon petunjuk
Mana gerangan yang tuan maksud
Salah memilih jejak
Terjebak dalam kegelapan
Salah menafsir kata
Menambah rancu pengertian
membuat rumit kebenaran
Dalam pusaran kekalutan wae kalaleuwa
Oh Demi masa
Begitu tajam dan halus
Kau iris huruf demi huruf
Kau potong Kata demi kata
Sampai tak tersisa sedikitpun
Kebenaran muasal
Andaikan hamba harus memilih
Mengikuti Jejak permukaan yang redup
Terbingkai warna dunia yang ramai
Apa bedanya dengan mereka
Haruskah hamba terima
Pengertian “Diatas batu”
Tuk wakili perbendaharaan agung
Dalam jubah kebesaran tuan
Dalam hening penuh harap
Hamba tersadar penuh senyum
Ada sesuatu yang hilang
Biang semu dan sempit
Ada nokhta yang tercerabut
Oleh distorsi waktu dan sejarah
Cuma satu huruf
Untuk mengembalikan makna awal
Makna yang tersambung dengan diktum
hakikat perbendaharaan awal
Kulubul mu'minina baitullah
Kulubil mu'minina arsy Allah
Sekalian semesta tak mampu menampung wujud-NYA
Hanya Hati orang-orang mukmin
Ada satu daging dalam tubuh anak adam
Jika baik maka baiklah ia, jika busuk maka busuklah ia
Segala amal perbuatan tergantung niat
Dan niat itu terucap di Hati
Gurua isyataru'e
Patania hatuamu
gurua isyi titah
Paberesi rumah laloi
Mane hoka riya haha
Gurua isyi Pitua
Oi lau rau kahu'ele
Oi masu-masu tala laisyale
"Nusa" otoiti
Taha potakunure
Taha kunu rapu ele
Lania uhowa'e
Niate manisya buji rahatala
Salamate ehe nala niate barobah
Lalu dengan perlahan tapi pasti
Hamba letakkan kembali huruf itu
Hanya satu huruf "i"
ketempatnya semula
untuk menggenapi kebenaran
Hatuai dan bukan hatu atau hatua
Hati dan bukan Batu
Kembali asal Hatuai Hahai
Singgasana di atas Hati
Tahta diatas Hati
Lalu dengan kagum hamba berseru
Salawat dan Salam
Damai dan sejahteralah
Tuan-Tuan yang bertahta
Diatas hati manusia-manusia mukmin Hatuhaha
Dan celakalah mereka-mereka
Yang memilih bertahta diatas "berhala" batu
Tuanku
Hamba mohon maaf jika salah dan lancang
Hamba hanya berusaha
Wallahu'allam Bissawab
Jakarta, 14 Mei 2010
Kapitan Merah
KAMBING DAN ELANG MERAH Kritik Atas Hegemoni Wacana & Kuasa Pengetahuan
19.44 |
KAMBING DAN ELANG MERAH
Kritik Atas Hegemoni Wacana & Kuasa Pengetahuan
Semilir angin menandai dimulainya sebuah taklimat
Di walang tua, bershaf-shaf sosok berjubah berdatangan
Tiba-tiba, keheningan dipecahkan oleh sebuah embikan
Akulah si cendekia, masyhur diseantero negeri
Aku tahu perihal tiga naga nusa ina
Aku tahu perihal dua gerbang hatuhaha
Aku tahu perihal dua sumur pandita
Aku tahu perihal dua kolam sang sultan
Aku tahu perihal empat mahkota raja
Aku tahu perihal tiga utusan sang kaisar
Aku tahu perihal tiga syekh di laut seberang
Aku tahu perihal empat duta besar nun jauh
Kunci dua kota ada digenggamanku
Perbendaharaan huruwano dan noni ada di balik sarungku
Nokhtah dua lembah bergantung dihelai rambutku
Ujung tanjung sial dan sawa laloi kulipat dalam satu titahku
Dan tiba-tiba hujjah itu diarahkan ke arah sang elang
Sang elang merah yang terdiam di pojok walang
Kala setengah tuak belum selesai direngut kerongkongan
Tuan tahu tentang apa?
Dalam tabir asap putih yang mengepul diatas ubun-ubun merahnya
Ketika tawa-tawa sindiran dari mejelis walang tuak menggema
Sebuah syair keluar dari paruh merah yang kokoh
Oh, dengarkan wahai majelis walang tuak
Adakah tuan tahu perihal gangga, tiberias dan hwang ho
Adakah tuan tahu perihal nil dan amazon
Adakah tuan tahu perihal tigris dan eufrat
Adakah tuan tahu perihal laut mati dan kaspia
Adakah tuan tahu perihal roma, athena dan persia
Adakah tuan tahu perihal bagdad, istambul dan agra
Adakah tuan tahu perihal india, ainu dan aborigin
Adakah tuan tahu perihal inza dan aztec
Ini bukan tentang dua kota
Bukan tentang dua perbendaharaan
Juga tentang dua noktah lembah
Apalagi tentang dua tanjung dan laut
Ini bukan tentang batu hitam penebar kabut
Juga bukan tentang ohi pengepul asap
Ini bukan tentang empat pilar alaka
Juga bukan tentang empat cahaya aumael dan kotarane
Ini tentang secangkir tuak
Yang bertahun-tahun dicari Khidir, Iskandar dan Jengis Khan
Yang tumpah di kakisyame dalam mabuk dan mi’raj
Yang menyembul dari warna-warni gadi-hu
Tuan tahu dan puas dengan mandi di wae maruti
Tuan yang pertama melihat haitapessy dan namalatu
Aku yang mengukir nama di dasar lautnya
Aku hanya butuh secangkir tuak
Tuan, jangan bernaung dibalik tempurung jantan
Mengembik mempertontonkan kuasa pengetahuan
Bak pepatah melayu “katak dibawah tempurung”
Sesekali pakailah tempurung betina
Meski tertimpa hujan dan panas
Tuan akan menembus batas dua penghalang
Dibalik lubang kecilnya yang memberi cahaya
Meskipun hanya sedikit dan sebentar
Jakarta, 23 September 2010
Kapitan Merah
Hidup dan Perpisahan
19.40 |
Berebut rezeki dunia di segala musim..
Yang sibuk se-kaku musim dingin..
Naik dan turun jabatan diperalihan musim..
Manusia datang & pergi bagai musim gugur..
Peruntungan baik dan buruk bagai musim semi.....
Keindahan dan keikmatan dunia tersapu sejenak di musim penghujan..
Racun dunia hanya seumur musim kemarau..
Adakah manusia paham arti dan makna perpisahan..
Adakah manusia bijaksana memandang makna kehidupan..
Mari kita renungkan di kedai tuak, Kakisyame..
Dihamparan lembah Waetanusa..
Diujung horizon bukit Aumael dan pelataran Matasiri..
Adakah jawabannya di puncak Kodamara..
Ataukah terbawa aliran arus wae ira dan marike'e..
Terkubur mati di kedalaman laut skutra..
Bisa jadi kau temukan di istana hati-mu..
Jakarta, 20 Oct 2010
kapitan merah
Replay Perpisahan
19.37 |
perpisahan itu kelahiran
hidup itu kematian yang nyata
perpisahan adalah awal hidup
...
hidup adalah awal perpisahan
ku bingung menemukan mana yang dulu singgah di kedaimu
namun gundukan di sana...
di puncak matatorun
di antara tihu di kaki bukit tihikondo
mengisyaratkan sebuah kelahiran abadi
tanahnya masih basah
pertanda perahunya baru saja beranjak pergi
......
air mengalir menuruni tebing tinggi waelurui
melewati ribuan tikungan dan berakhir di waelainyi
ia patuh pada titah alam
namun perpisahan ini sebaliknya
ku mendaki di puncak kota para pejuang
melewati terjalnya wae susu untuk harus menggapai unjung panji perjuangan di puncak alaka...
dan
kematian itu ku maknai sbgai awal kehidupan
inilah aku yang berjalan bersama kematian
by:




