comment Jam dinding tua

Biarkan Permana terbuai dngan detakan jarum jamx, hingga nanti mengantarnya ke waktu yg kan menuntut sgalah akibat dari ulahnya itu.

Mungkin jam yg kini di pegang Permana bisa diibaratkan "Jam Analog di Zaman Digital"....Tidak sadar kalo jam... dinding Tua yg perna di milikinya adalah "jam segalah zaman" lewati ribuan generasi, lewati segalah masa dan lewati segalah dimensi...

by: erdy

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

JAM DINDING TUA

by : ALAN RUSUA

JAM INI INDAH SEKALI
PEMBUATNYA PASTI SANGAT AHLI
JAM DINDING ITU BUATAN MAHA GURUH
DIWARSKAN UNTUK MENGHITUNG WAKTU & MENUNJUK ARAH

APA TUAN PEMILIKNYA ..?
BUKAN ...!!!!
LIMA NEGERI ITU TUANNYA
PERMANA & PERMAISURI DITAMBAH TIGA ADIKNYA

JAM DINDING ITU TAMPAK BEDA DENGAN LAINNYA
ANGKA-ANGKANYA HANYA SATU SAMPAI DELAPAN
BAGAIMANA BISA DIPAKAI UNTUK MENGHITUNG WAKTU DAN MENUNJUK ARAH ..?
SUDAH DIAJARI OLEH MAHA GURUH
PEDOMANNYA SUDAH DIWARISKAN BUAT TUAN-TUAN DI LIMA NEGERI ITU

JAM DINDING INI TAMPAKNYA AGAK TERLAMBAT
YAH ..! PEMBUATNYA MEWARSIKANNYA BEGITU
TAPI KENAPA SANG PERMANA INGIN MERUBAHNYA .?
KARENA PERMANA TAK SUKAH JAM DINDING TUA

PERMANA MENGINGINKAN YANG BAHARU
YG TDK TELAT & SAMA DENGAN LAINNYA

APA PERMANA SUDAH PUNYA JAM DINDING BARU ...?
YAH ..! HASIL PERMAK DARI JAM DINDING TUA
TAPI ITU SEBUAH TIPU MUSLIHAT
HARGA TEBUSAN UNTUK SEBUAH HUKUMAN

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Kolaborasi si Gagak

Gelak tawa para pengkultus
mengiringi alunan melodi siulan gagak hitam,
mengusung irama memekakan telinga
di pentas sandiwara degradasi titah guru…..

Mereka berbagi pedang bersama
sedang tangan yang lainnya bertamengkan intelektual
menebas di setiap sudut dialektika
tak urung membuat sang kesturi tercengan kaget
melihat kolaborasi klasik mereka di zaman digital…...

Debu zaman boleh mengendap di setiap cerita
namun tidak untuk jam dinding tua dalam cerita lain bang Alan Rusua.
Di kedai kang Ahmad Moni Ku berhutang secangkir tuak
biar mampu ku selami isyarat di balik tiga batang jarum
yang taat menjalankan titah waktu.

jam dinding tua itu kini berdenting
menebar isyarat di ketinggian singgasana arsy
alam pun mengamuk, tanda bumi tak lagi akur
ketika fenomena kedudukan mengambil alih titah pandita

Kang Ahmad, maaf ya....ku pinjam melodi di karya yg lain
Nusa hatuhaha nusa barakate
Tihiny barakatea wa’a kutika lessia dunia’e
Putu kota hatua kura lauto kalajimua
Syahadatau maheri suwe ma’aria dunia’e

Ini lelucon sejarah,
Siulan si gagak yang meruntuhkan aqidah
menyekap sudut fitrah manusia di lorong gelap
membungkam warisan jiwa yang sebenarnya
jangan…jangan…jangan tertidur di antara sejarah kawanku

kita terlahir untuk masa ini,
walau tinggi, biarkan Huruwano menjadi iri melihat lebih tingginya perjuangan kita
biarkan Alaka tersenyum, bahwa ternyata ada perjuangan di balik temboknya yg dulu kokoh
sebelum Tihu di Kaki Bukit Tihikondo menjadi kering
sebelum daun gadihu menjadi layu
sebelum malam menjelang….

si Gagak hanya butuh sangkar yang nyaman
sangkar yang di sinari Hannan…..Mannan….Daiyan dan Burhan
biar cukup cahayanya
terang penglihatannya…..
peka perasaannya…..
tajam penciumanannya
hingga cahaya penghidupan benar ada di sana


2 November 2010
(ditulis di : puncak segitiga gowa, di antara makam para sultan)

Oleh:
mahala lahat wa’a nusa talimau

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Hatu atau Hati

Dari tiada maujud dalam nokhta
Merangkai bentuk dalam huruf
Menyusun abjad dalam deretan
Tercipta kata penuh makna

Hatuhaha
Hatuhahai
Hatuahahai

Wahai penyusun nokhta dan huruf
Dalam cepatnya rotasi masa
Menggilas bukti menghapus jejak
Hamba bingung mohon petunjuk
Mana gerangan yang tuan maksud

Salah memilih jejak
Terjebak dalam kegelapan
Salah menafsir kata
Menambah rancu pengertian
membuat rumit kebenaran
Dalam pusaran kekalutan wae kalaleuwa

Oh Demi masa
Begitu tajam dan halus
Kau iris huruf demi huruf
Kau potong Kata demi kata
Sampai tak tersisa sedikitpun
Kebenaran muasal

Andaikan hamba harus memilih
Mengikuti Jejak permukaan yang redup
Terbingkai warna dunia yang ramai
Apa bedanya dengan mereka

Haruskah hamba terima
Pengertian “Diatas batu”
Tuk wakili perbendaharaan agung
Dalam jubah kebesaran tuan

Dalam hening penuh harap
Hamba tersadar penuh senyum
Ada sesuatu yang hilang
Biang semu dan sempit

Ada nokhta yang tercerabut
Oleh distorsi waktu dan sejarah
Cuma satu huruf
Untuk mengembalikan makna awal
Makna yang tersambung dengan diktum
hakikat perbendaharaan awal

Kulubul mu'minina baitullah
Kulubil mu'minina arsy Allah

Sekalian semesta tak mampu menampung wujud-NYA
Hanya Hati orang-orang mukmin

Ada satu daging dalam tubuh anak adam
Jika baik maka baiklah ia, jika busuk maka busuklah ia

Segala amal perbuatan tergantung niat
Dan niat itu terucap di Hati

Gurua isyataru'e
Patania hatuamu

gurua isyi titah
Paberesi rumah laloi
Mane hoka riya haha

Gurua isyi Pitua
Oi lau rau kahu'ele
Oi masu-masu tala laisyale

"Nusa" otoiti
Taha potakunure
Taha kunu rapu ele

Lania uhowa'e
Niate manisya buji rahatala
Salamate ehe nala niate barobah

Lalu dengan perlahan tapi pasti
Hamba letakkan kembali huruf itu
Hanya satu huruf "i"
ketempatnya semula
untuk menggenapi kebenaran

Hatuai dan bukan hatu atau hatua
Hati dan bukan Batu
Kembali asal Hatuai Hahai
Singgasana di atas Hati
Tahta diatas Hati

Lalu dengan kagum hamba berseru
Salawat dan Salam
Damai dan sejahteralah
Tuan-Tuan yang bertahta
Diatas hati manusia-manusia mukmin Hatuhaha
Dan celakalah mereka-mereka
Yang memilih bertahta diatas "berhala" batu

Tuanku
Hamba mohon maaf jika salah dan lancang
Hamba hanya berusaha
Wallahu'allam Bissawab


Jakarta, 14 Mei 2010
Kapitan Merah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

KAMBING DAN ELANG MERAH Kritik Atas Hegemoni Wacana & Kuasa Pengetahuan

KAMBING DAN ELANG MERAH

Kritik Atas Hegemoni Wacana & Kuasa Pengetahuan



Semilir angin menandai dimulainya sebuah taklimat

Di walang tua, bershaf-shaf sosok berjubah berdatangan

Tiba-tiba, keheningan dipecahkan oleh sebuah embikan

Akulah si cendekia, masyhur diseantero negeri



Aku tahu perihal tiga naga nusa ina

Aku tahu perihal dua gerbang hatuhaha

Aku tahu perihal dua sumur pandita

Aku tahu perihal dua kolam sang sultan



Aku tahu perihal empat mahkota raja

Aku tahu perihal tiga utusan sang kaisar

Aku tahu perihal tiga syekh di laut seberang

Aku tahu perihal empat duta besar nun jauh



Kunci dua kota ada digenggamanku

Perbendaharaan huruwano dan noni ada di balik sarungku

Nokhtah dua lembah bergantung dihelai rambutku

Ujung tanjung sial dan sawa laloi kulipat dalam satu titahku



Dan tiba-tiba hujjah itu diarahkan ke arah sang elang

Sang elang merah yang terdiam di pojok walang

Kala setengah tuak belum selesai direngut kerongkongan

Tuan tahu tentang apa?



Dalam tabir asap putih yang mengepul diatas ubun-ubun merahnya

Ketika tawa-tawa sindiran dari mejelis walang tuak menggema

Sebuah syair keluar dari paruh merah yang kokoh

Oh, dengarkan wahai majelis walang tuak



Adakah tuan tahu perihal gangga, tiberias dan hwang ho

Adakah tuan tahu perihal nil dan amazon

Adakah tuan tahu perihal tigris dan eufrat

Adakah tuan tahu perihal laut mati dan kaspia



Adakah tuan tahu perihal roma, athena dan persia

Adakah tuan tahu perihal bagdad, istambul dan agra

Adakah tuan tahu perihal india, ainu dan aborigin

Adakah tuan tahu perihal inza dan aztec



Ini bukan tentang dua kota

Bukan tentang dua perbendaharaan

Juga tentang dua noktah lembah

Apalagi tentang dua tanjung dan laut



Ini bukan tentang batu hitam penebar kabut

Juga bukan tentang ohi pengepul asap

Ini bukan tentang empat pilar alaka

Juga bukan tentang empat cahaya aumael dan kotarane



Ini tentang secangkir tuak

Yang bertahun-tahun dicari Khidir, Iskandar dan Jengis Khan

Yang tumpah di kakisyame dalam mabuk dan mi’raj

Yang menyembul dari warna-warni gadi-hu



Tuan tahu dan puas dengan mandi di wae maruti

Tuan yang pertama melihat haitapessy dan namalatu

Aku yang mengukir nama di dasar lautnya

Aku hanya butuh secangkir tuak



Tuan, jangan bernaung dibalik tempurung jantan

Mengembik mempertontonkan kuasa pengetahuan

Bak pepatah melayu “katak dibawah tempurung”

Sesekali pakailah tempurung betina

Meski tertimpa hujan dan panas

Tuan akan menembus batas dua penghalang

Dibalik lubang kecilnya yang memberi cahaya

Meskipun hanya sedikit dan sebentar





Jakarta, 23 September 2010

Kapitan Merah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Hidup dan Perpisahan

Berebut rezeki dunia di segala musim..

Yang sibuk se-kaku musim dingin..

Naik dan turun jabatan diperalihan musim..

Manusia datang & pergi bagai musim gugur..

Peruntungan baik dan buruk bagai musim semi.....

Keindahan dan keikmatan dunia tersapu sejenak di musim penghujan..

Racun dunia hanya seumur musim kemarau..

Adakah manusia paham arti dan makna perpisahan..

Adakah manusia bijaksana memandang makna kehidupan..

Mari kita renungkan di kedai tuak, Kakisyame..

Dihamparan lembah Waetanusa..

Diujung horizon bukit Aumael dan pelataran Matasiri..

Adakah jawabannya di puncak Kodamara..

Ataukah terbawa aliran arus wae ira dan marike'e..

Terkubur mati di kedalaman laut skutra..

Bisa jadi kau temukan di istana hati-mu..



Jakarta, 20 Oct 2010
kapitan merah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Replay Perpisahan

perpisahan itu kelahiran

hidup itu kematian yang nyata

perpisahan adalah awal hidup
...
hidup adalah awal perpisahan

ku bingung menemukan mana yang dulu singgah di kedaimu

namun gundukan di sana...

di puncak matatorun

di antara tihu di kaki bukit tihikondo

mengisyaratkan sebuah kelahiran abadi

tanahnya masih basah

pertanda perahunya baru saja beranjak pergi

......

air mengalir menuruni tebing tinggi waelurui

melewati ribuan tikungan dan berakhir di waelainyi

ia patuh pada titah alam

namun perpisahan ini sebaliknya

ku mendaki di puncak kota para pejuang

melewati terjalnya wae susu untuk harus menggapai unjung panji perjuangan di puncak alaka...

dan

kematian itu ku maknai sbgai awal kehidupan

inilah aku yang berjalan bersama kematian



by:

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)